Wednesday, 12 March 2014

Hattrick Dari Owi dan Butet


Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir semakin fenomenal. Tiga gelar juara All England beruntun telah menjadi milik mereka. Sesuatu yang tak pernah dicatatkan pemain pasangan ganda campuran Indonesia lainnya. Sebutan ‘Pahlawan Bulutangkis’ pun terpampang di siaran-siaran televisi yang memberitakan kemenangan mereka. Para pecinta bulutangkis Indonesia kian menempatkan mereka sebagai sosok panutan yang menginspirasi.

Kemenangan Owi/Butet di All England semakin menarik bila menilik skor kemenangan yang tercatat bisa sama persis dengan setahun sebelumnya. Tahun 2013, mereka juga mengalahkan pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei dengan skor akhir 21-13, 21-17. Sama-sama sempat tertahan match point tiga kali, sebelum akhirnya sama-sama meraup poin kemenangan setelah pukulan Zhao Yun Lei tertahan net.

Namun, itu hanya pemanis saja. Performa yang ditunjukkan Tontowi/Liliyana pada laga final di Birmingham memang luar biasa. Celah kesalahan dan kelemahan mental sama sekali tak kentara. Mereka menunjukkan pola serangan, pertahanan, serta transisi posisi di lapangan yang rapi. Sulit ditembus lawan. Ketegangan akibat tekanan mental sama sekali tak tampak dari wajah mereka.

Beban sebagai pemain papan atas Indonesia seakan tak lagi terasa berat di pundak mereka. Keduanya telah menunjukkan kematangan sebagai partner yang perkasa di atas lapangan. Ini yang sebenarnya sempat diharapkan terjadi saat mereka berlaga di Olimpiade London 2012. Sayangnya, kematangan itu baru bisa datang setelahnya. Kegagalan di London memang menjadi cambukan keras bagi mereka untuk mendapatkan gelar-gelar bergengsi lainnya.

Memasuki tahun 2013, pasangan ini memang semakin bersinar. Status juara dunia 2013 menjadi milik mereka. Sinar terang itu pun masih bertahan lewat tambahan koleksi gelar juara di All England pada 9 Maret 2014 lalu. Tentu sudah sebaiknya mereka terus mempertahankan itu dengan membidik gelar bergengsi lainnya tahun ini.

Kita sangat menantikan torehan sejarah lain dari Tontowi/Liliyana. Yang terdekat, kejuaran dunia bulutangkis yang akan berlangsung di Copenhagen, Denmark, akhir Agustus mendatang. Bila sukses mempertahankan gelar juara dunia, Owi/Butet bisa menyamai rekor Park Joo-bong/Chung Myung-hee, pasangan ganda campuran Korea yang jadi juara dunia tahun 1989-1991. Kebetulan juga, Owi/Butet baru saja menyamai catatan tiga gelar beruntun-nya di All England milik Park/Chung. Jika gelar juara dunia kembali direbut Tontowi/Liliyana tahun ini, tentu akan semakin terasa pas memanggil mereka ‘Pahlawan Bulutangkis’.



Ambisi untuk meraih kembali gelar juara seharusnya tidak lagi menjadi kendala. Tontowi/Lliliyana sudah membuktikannya di Birmingham. Apalagi, sekarang ini bukan hanya mereka yang menjadi tumpuan meraih gelar. Tontowi/Liliyana bisa berbagi beban dengan pemain ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.
 

Sudah bukan saatnya lagi kita melihat Tontowi yang menjadi emosional jika melakukan kesalahan sendiri. Atau, Liliyana yang kehilangan kendali jika mereka dalam posisi tertekan lawan. Pola permainan mereka di All England adalah bukti bagaimana keduanya sudah saling memahami bagaimana bermain sebagai satu tim yang sangat solid. Sesuatu yang memang sudah dipelajari dalam 4 tahun kiprah mereka.
  • Blogger Comment
  • Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2014 Draco Dormiens Nunquam Titillandus All Right Reserved
Designed by Desfira